![]() |
| Simulasi Kursi Roda |
Membangun masyarakat yang
inklusif dan ramah terhadap semua kalangan dimulai dari satu langkah sederhana:
pemahaman. Selama ini, sebagian besar dari kita mungkin hanya mengaitkan kata
"disabilitas" dengan pengguna kursi roda atau tongkat tunanetra.
Padahal, ragam disabilitas jauh lebih luas dan kompleks daripada apa yang
tampak oleh mata.
Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas secara resmi membagi ragam
disabilitas menjadi empat kategori utama, ditambah kategori disabilitas ganda.
Pemetaan ini sejalan dengan panduan International Classification of
Functioning, Disability and Health (ICF) yang dikeluarkan oleh Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO).
Untuk meningkatkan kepedulian dan
menghapus stigma, mari kita kenali jenis-jenis penyandang disabilitas
berdasarkan tanda fisik, mental, maupun karakteristik lainnya.
1. Disabilitas Fisik
Disabilitas fisik adalah terganggunya fungsi gerak, kekuatan, atau fleksibilitas tubuh. Tanda fisik dari ragam ini biasanya paling mudah dikenali dalam interaksi sehari-hari.
- Karakteristik & Tanda: Meliputi
amputasi, lumpuh layu atau kaku, paraplegi (kelumpuhan anggota tubuh
bagian bawah), akibat stroke, atau Cerebral Palsy (lumpuh otak).
- Alat Bantu yang Sering Digunakan: Pengguna
kursi roda, kruk, tongkat jalan, atau protesis (anggota tubuh tiruan).
2. Disabilitas Sensorik
Disabilitas sensorik terjadi
ketika salah satu atau lebih fungsi panca indra seseorang mengalami hambatan,
sehingga memengaruhi cara mereka memproses informasi dari lingkungan.
- Disabilitas Netra: Gangguan pada daya
penglihatan, mulai dari tingkat rendah (low vision) hingga buta
total (total blindness). Tanda lainnya adalah penggunaan huruf
Braille atau alat bantu dengar (tongkat putih).
- Disabilitas Rungu dan Wicara: Hambatan pada
fungsi pendengaran dan berbicara. Tandanya sering terlihat saat mereka
berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat (seperti BISINDO atau SIBI),
membaca gerakan bibir, atau menggunakan alat bantu dengar (hearing aid).
3. Disabilitas Intelektual
Menurut WHO, disabilitas
intelektual ditandai dengan keterbatasan signifikan baik dalam fungsi
intelektual (seperti penalaran, pembelajaran, dan pemecahan masalah) maupun
dalam perilaku adaptif sehari-hari.
- Karakteristik & Tanda: Kondisi ini
biasanya muncul sebelum usia 18 tahun, salah satu contohnya adalah Down
Syndrome. Secara fisik, beberapa kondisi memiliki ciri khas wajah
(seperti pada Down Syndrome), namun tanda utamanya adalah
keterlambatan dalam perkembangan motorik, kemampuan berbicara, serta
kesulitan dalam memahami konsep abstrak atau instruksi yang kompleks.
4. Disabilitas Mental
Berbeda dengan disabilitas
intelektual yang berfokus pada fungsi kognitif sejak lahir, disabilitas mental
berkaitan dengan terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku dalam jangka
waktu lama.
- Faktor Psikososial: Meliputi kondisi seperti
skizofrenia, bipolar, depresi berat, dan gangguan kecemasan. Tandanya
tidak bisa dilihat secara fisik, melainkan dari perubahan perilaku yang
ekstrem, kesulitan mengelola emosi, atau hambatan dalam berinteraksi
sosial secara wajar.
- Faktor Perkembangan: Termasuk dalam kategori
ini adalah Autisme (ASD) dan ADHD. Tandanya bisa berupa kesulitan dalam
komunikasi dua arah, melakukan gerakan berulang (stereotipik), atau
sensitivitas berlebih terhadap suara atau cahaya tertentu.
5. Disabilitas Ganda atau
Multi
Kondisi di mana seseorang
memiliki dua atau lebih jenis disabilitas secara bersamaan dalam satu waktu.
Misalnya, seorang anak yang menyandang disabilitas rungu sekaligus disabilitas
netra (tunarungu-netra), atau disabilitas fisik yang disertai disabilitas
intelektual.
Mengapa Memahami Ragam Ini
Penting?
Mengetahui perbedaan
karakteristik ini bukan untuk memberi label atau membeda-bedakan, melainkan
untuk memahami kebutuhan aksesibilitas mereka. Seseorang dengan
disabilitas fisik membutuhkan ramp (jalan landai), disabilitas netra
membutuhkan guiding block (ubin pemandu), sedangkan disabilitas mental
atau intelektual membutuhkan komunikasi yang jelas, sabar, dan lingkungan yang
minim tekanan.
Mengenal ragam disabilitas adalah
modal utama kita untuk berhenti memandang mereka dengan rasa iba, dan mulai
memandang mereka dengan rasa setara. Sudah saatnya ruang-ruang publik,
perkantoran, dan sekolah diisi oleh keberagaman yang ramah bagi semua kemampuan
tubuh dan pikiran.
.jpeg)
No comments:
Post a Comment