Wednesday, July 8, 2026

Islam, Pendidikan Inklusif, dan Memanusiakan Disabilitas

 

Bersama Tim CSSN UIN Jakarta dan UIN Surakarta

Di sebagian sudut masyarakat kita, pemandangan ini mungkin masih ada: seorang anak dengan disabilitas disembunyikan di dalam rumah saat tamu berkunjung. Ada stigma purba yang belum sepenuhnya terkikis, sebuah pandangan awam yang keliru bahwa melahirkan atau memiliki anggota keluarga dengan keterbatasan fisik maupun mental adalah sebuah aib, kutukan, atau hukuman atas dosa masa lalu. Ketakutan akan cemoohan lingkungan sosial sering kali membuat keluarga memilih menarik diri, mengunci potensi sang anak, dan merenggut hak paling mendasarnya untuk tumbuh di tengah masyarakat.

Pandangan diskriminatif ini jelas bertolak belakang dengan napas inklusivitas yang diusung oleh Islam. Jauh sebelum dunia modern merumuskan konsep inclusive education atau pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, Islam telah meletakkan fondasi kemanusiaan yang sangat kukuh: bahwa kemuliaan seorang manusia tidak pernah diukur dari kesempurnaan fisik atau biologisnya, melainkan dari ketakwaan dan kebersihan hatinya.

Teguran Langit tentang Kesetaraan

Lebih Dekat dan Peduli: Mengenal Jenis-Jenis Disabilitas di Sekitar Kita

 

Simulasi Kursi Roda

Membangun masyarakat yang inklusif dan ramah terhadap semua kalangan dimulai dari satu langkah sederhana: pemahaman. Selama ini, sebagian besar dari kita mungkin hanya mengaitkan kata "disabilitas" dengan pengguna kursi roda atau tongkat tunanetra. Padahal, ragam disabilitas jauh lebih luas dan kompleks daripada apa yang tampak oleh mata.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas secara resmi membagi ragam disabilitas menjadi empat kategori utama, ditambah kategori disabilitas ganda. Pemetaan ini sejalan dengan panduan International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF) yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Untuk meningkatkan kepedulian dan menghapus stigma, mari kita kenali jenis-jenis penyandang disabilitas berdasarkan tanda fisik, mental, maupun karakteristik lainnya.

1. Disabilitas Fisik

Tuesday, June 16, 2026

Tahun Baru Hijriah ala Betawi: Pawai Obor, Santunan Yatim Sampe Mandiin Golok

 


Gepokan kalender dinding di rumah belon juga abis, tau-tau kita udah ketemu lagi ama yang namanya Taun Baru Hijriah. Buat orang Betawi, wabilkhusus nyang di pinggiran—nyang ngomongnya masih pake "lu-gwe" tapi logatnya "ngonoh" ama "ngeneh"—momen 1 Muharram itu punya kasta tersendiri. Kaga ada tuh ceritanya tiup terompet tet-tot sampe bibir dower, boro-boro nyalain kembang api nyang harganya bikin dompet jantungan. Kita mah punya cara dewek nyang jauh lebih asyik dan bikin perut kenyang.

Kagak Pake Masehi, Ini Sejarahnya Tong!

Sebelon kita ngomongin urusan perut, ada baiknya kita muasalin dulu ini barang. Biar kagak dibilang "cuma ikut-ikutan doang kayak bebek diangon."

Jadi begini ceritanya, Tong. Taun Baru Hijriah itu sejarahnya merujuk pada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah ke Madinah. Nah, nyang punya ide bikin kalender ini tuh Khalifah Umar bin Khattab, sekira taun ke-17 setelah hijrah. Umar bin Khattab pusing karena surat-surat negara kagak ada tanggal resminya. Setelah kongkow bareng para sahabat nyang lain, diputusin dah tuh: momen hijrah dijadiin titik awal taun Islam. Makanya dinamain kalender Hijriah. 

Pawai Obor: Ketika Kampung Berubah Jadi 'Lautan Api'