![]() |
| MBKM Malang |
Dunia pendidikan saat ini tengah menghadapi badai disrupsi yang luar biasa cepat. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah mengubah lanskap akademik secara drastis. Berdasarkan laporan dari Komite Ad Hoc Massachusetts Institute of Technology (MIT) Agustus lalu, mengenai Penggunaan AI dalam Pengajaran dan Pembelajaran, penggunaan AI di kalangan mahasiswa sudah sangat masif dan pervasif. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi yang luar biasa. Namun di sisi lain, AI mengancam untuk merampas bagian paling esensial dan transformatif dari sebuah proses pendidikan: struggle atau perjuangan intelektual yang produktif.
Ketika AI mampu memberikan
jawaban instan dalam hitungan detik untuk soal-soal matematika, esai, hingga
kode pemrograman, mahasiswa sering kali tergiur untuk mengambil jalan pintas.
Padahal, pendidikan yang sejati bukanlah sekadar memproduksi jawaban akhir yang
benar, melainkan bagaimana proses mental itu ditempuh.
Untuk memahami kembali mengapa struggle
sangat krusial dalam dunia akademik, mari kita bedah satu per satu elemen
penting dalam proses perjuangan belajar—mulai dari mencoba, salah, bingung,
berpikir ulang, diskusi, hingga mempertahankan argumen.
1. Mencoba: Keberanian untuk
Memulai Langkah Pertama
Proses belajar selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba.

.jpeg)
