Showing posts with label mahasiswa pasca mudik. Show all posts
Showing posts with label mahasiswa pasca mudik. Show all posts

Monday, March 30, 2026

Energi yang Terkuras, Semangat yang Harus Diisi Ulang: Menavigasi Geopolitik dan Psikologi Pasca-Lebaran

Gema takbir yang beberapa waktu lalu membahana di langit nusantara kini mulai memudar, digantikan oleh deru mesin kendaraan yang membawa jutaan pemudik kembali ke rutinitas urban. Namun, bagi mahasiswa, "arus balik" kali ini bukan sekadar urusan fisik berpindah dari kampung halaman ke kamar kos. Ada beban ganda yang menunggu di atas meja belajar: dinamika geopolitik global yang kian memanas di Timur Tengah dan perjuangan batin melawan lembah depresi pasca-liburan atau post-holiday blues.

 


Geopolitik: Ketika Konflik Jauh Terasa Dekat

Saat kita asyik menyantap ketupat bersama keluarga, tensi di Timur Tengah—khususnya eskalasi antara aktor-aktor utama produsen minyak—berada pada titik didih. Bagi mahasiswa, mungkin muncul pertanyaan: “Apa hubungannya konflik di Teluk dengan tugas kuliah saya?”

Jawabannya adalah ketahanan. Ketegangan di Selat Hormuz (perang Iran – Israel/Amerika) berdampak langsung pada rantai pasok energi global. Indonesia, sebagai negara importir minyak mentah, sangat rentan terhadap fluktuasi harga ini. Kenaikan harga energi bukan sekadar angka di berita, tapi potensi inflasi yang merembet ke harga kuota internet, biaya transportasi ojek online, hingga harga seporsi nasi di kantin kampus, warteg atau warsun.

Di sinilah urgensi hemat energi bergeser maknanya. Ia bukan lagi sekadar jargon peduli lingkungan yang klise, melainkan tindakan patriotik yang pragmatis. Mahasiswa sebagai kelas menengah terdidik harus memimpin budaya efisiensi. Mematikan AC dan lampu saat kelas berakhir, beralih ke transportasi publik, atau sekadar mengurangi penggunaan perangkat elektronik yang tidak perlu, hingga berjalan kaki dari kos-an ke kampus adalah bentuk solidaritas nasional dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah badai geopolitik.