Tuesday, June 16, 2026

Tahun Baru Hijriah ala Betawi: Pawai Obor, Santunan Yatim Sampe Mandiin Golok

 


Gepokan kalender dinding di rumah belon juga abis, tau-tau kita udah ketemu lagi ama yang namanya Taun Baru Hijriah. Buat orang Betawi, wabilkhusus nyang di pinggiran—nyang ngomongnya masih pake "lu-gwe" tapi logatnya "ngonoh" ama "ngeneh"—momen 1 Muharram itu punya kasta tersendiri. Kaga ada tuh ceritanya tiup terompet tet-tot sampe bibir dower, boro-boro nyalain kembang api nyang harganya bikin dompet jantungan. Kita mah punya cara dewek nyang jauh lebih asyik dan bikin perut kenyang.

Kagak Pake Masehi, Ini Sejarahnya Tong!

Sebelon kita ngomongin urusan perut, ada baiknya kita muasalin dulu ini barang. Biar kagak dibilang "cuma ikut-ikutan doang kayak bebek diangon."

Jadi begini ceritanya, Tong. Taun Baru Hijriah itu sejarahnya merujuk pada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah ke Madinah. Nah, nyang punya ide bikin kalender ini tuh Khalifah Umar bin Khattab, sekira taun ke-17 setelah hijrah. Umar bin Khattab pusing karena surat-surat negara kagak ada tanggal resminya. Setelah kongkow bareng para sahabat nyang lain, diputusin dah tuh: momen hijrah dijadiin titik awal taun Islam. Makanya dinamain kalender Hijriah. 

Pawai Obor: Ketika Kampung Berubah Jadi 'Lautan Api'

Kesengsaraan Berkepanjangan

 


Elegi di Balik Selempang: Siapa yang Sebenarnya Meluluskan Siswa ke PTN?

 

Studi Banding ke IPB

Musim pengumuman masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tiba. Media sosial mendadak riuh dengan ucapan selamat, foto anak berseragam dengan jaket almamater kampus impian, hingga narasi mengharu biru tentang perjuangan "belajar sampai pagi". Namun, di balik keriuhan itu, ada sebuah satir yang terus berulang: mengapa sekolah seolah hanya menjadi tempat singgah, sementara "tiket emas" menuju universitas justru dianggap lahir dari tangan dingin bimbingan belajar (bimbel)?

Antara Beban Guru dan "Toko" Penjawab Soal

Mari kita tengok realitas di ruang kelas. Guru kita bukan sedang santai. Di pundak mereka terpanggul beban administrasi yang menggunung—mulai dari input rapor, kurikulum yang terus berganti, hingga mengurus logistik sekolah yang serba terbatas. Seorang guru seringkali terjebak dalam dilema: ingin memberikan pendalaman materi intensif untuk siswa kelas XII, namun waktunya habis tersita untuk mengisi borang akreditasi.

Akibatnya, saat guru berjuang menyelesaikan beban kerja birokratis, siswa mulai merasa "tertinggal". Di sinilah industri bimbel masuk dengan jubah pahlawan. Mereka menjual janji berupa taktik kilat, rumus sakti, dan bocoran tipe soal. Orang tua, yang dicekam rasa takut anaknya kalah bersaing, rela menguras tabungan—bahkan berutang—demi membiayai paket bimbel yang harganya bisa membuat sesak napas.

Satirnya jelas: sekolah adalah tempat menuntut ilmu, tetapi bimbel adalah tempat menuntut nilai. Dan kita, sebagai masyarakat, telah terlanjur memuja nilai di atas ilmu.

Psikologi yang Terjepit

Ijazah Kiri, Karier Kanan: Balada Sarjana ‘Nyasar’ di Tengah Badai Ekonomi

 

Bersama Mahasiswa MPS

Coba ingat-ingat lagi, apa judul skripsi Anda dan apa pekerjaan Anda sekarang?

Jika Anda adalah lulusan Hubungan Internasional yang kini sibuk negosiasi promo bundling kosmetik di live streaming TikTok, atau Sarjana Pertanian yang menghabiskan 40 jam seminggu meracik pivot table di Microsoft Excel, mari berpelukan. Anda tidak sendirian. Lihat kembali ramai berita di media sosial video atau foto alumni statistika PTN ternama yang menjadi tukang mie ayam, yang kuliah jurusan pendidikan malah jadi HRD, kuliah teknik malah jadi tukang jual kopi, dan lainnya. Selamat datang di "Republik Salah Jurusan", sebuah negara batiniah di mana ijazah dan slip gaji sering kali tidak saling mengenal.

Dulu, saat wisuda, kita merasa siap menaklukkan dunia. Namun, dunia ternyata punya selera humor yang gelap. Ketika idealisme berbenturan dengan realitas, banyak dari kita yang akhirnya sadar: passion memang penting, tapi passion tidak bisa dipakai untuk membayar cicilan motor dan tagihan PayLater.

Idealisme yang Runtuh oleh Statistik

Tragedi Keturunan Kedelapan: Mitos "Harta Tujuh Turunan" dan Evolusi Finansial Keluarga Betawi Modern

Menjahit

Kita semua pasti pernah mendengar pepatah legendaris yang sering diucapkan para juragan tanah di masa lampau sambil ongkang-ongkang kaki di bale depan rumah: "Tenang aja, harta Babeh nggak bakal habis tujuh turunan!"

Secara matematis dan historis, kalimat itu mungkin benar adanya. Sayangnya, banyak keluarga Betawi saat ini yang baru menyadari satu plot twist yang sangat tragis: Kita ini keturunan kedelapan. Pantas saja pas dicek, sertifikat tanah yang dulunya membentang luas dari ujung jalan raya sampai ke ujung kali, sekarang tinggal sepetak. Sisanya mentok cuma cukup buat dibikin empang pemancingan ikan mas warga satu RT.

Inilah realitas literasi keuangan yang sedang dihadapi keluarga Betawi modern. Kita hidup di persimpangan antara mempertahankan tradisi leluhur dan menghadapi kejamnya inflasi serta naiknya harga properti, khususnya di daerah penyangga yang makin padat.

Mari kita bedah beberapa stereotip dan realitasnya dari kacamata finansial.

1. Kutukan Pembagian Warisan dan Efek "Kue Cucur"