Tuesday, June 16, 2026

Ijazah Kiri, Karier Kanan: Balada Sarjana ‘Nyasar’ di Tengah Badai Ekonomi

 

Bersama Mahasiswa MPS

Coba ingat-ingat lagi, apa judul skripsi Anda dan apa pekerjaan Anda sekarang?

Jika Anda adalah lulusan Hubungan Internasional yang kini sibuk negosiasi promo bundling kosmetik di live streaming TikTok, atau Sarjana Pertanian yang menghabiskan 40 jam seminggu meracik pivot table di Microsoft Excel, mari berpelukan. Anda tidak sendirian. Lihat kembali ramai berita di media sosial video atau foto alumni statistika PTN ternama yang menjadi tukang mie ayam, yang kuliah jurusan pendidikan malah jadi HRD, kuliah teknik malah jadi tukang jual kopi, dan lainnya. Selamat datang di "Republik Salah Jurusan", sebuah negara batiniah di mana ijazah dan slip gaji sering kali tidak saling mengenal.

Dulu, saat wisuda, kita merasa siap menaklukkan dunia. Namun, dunia ternyata punya selera humor yang gelap. Ketika idealisme berbenturan dengan realitas, banyak dari kita yang akhirnya sadar: passion memang penting, tapi passion tidak bisa dipakai untuk membayar cicilan motor dan tagihan PayLater.

Idealisme yang Runtuh oleh Statistik

Banyak sarjana baru yang awalnya enggan bekerja jika tidak "linier" dengan jurusan kuliah. Sayangnya, realitas pasar tenaga kerja kita sedang tidak ramah untuk orang-orang idealis. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, ada 7,35 juta orang pengangguran di Indonesia. Mau bersaing secara idealis melawan jutaan orang ini? Silakan saja, asal lambung Anda sudah berlatih puasa Daud.

Belum lagi jika kita menengok kondisi dunia usaha. Badai deindustrialisasi, khususnya di sektor padat karya, sedang tidak main-main. Sepanjang 2025 saja, Asosiasi Pertekstilan Indonesia mencatat setidaknya lima pabrik tekstil besar gulung tikar, merumahkan ribuan pekerjanya, dan menyusul deretan pabrik lain yang sudah megap-megap sejak kasus Sritex dan kawan-kawan.

Ketika pabrik dan korporasi pada bangkrut, boro-boro mau pilih-pilih pekerjaan yang sesuai kurikulum. Bisa lolos interview dan tidak di-ghosting HRD saja rasanya sudah seperti menang lotre. Keadaan yang kepepet dan himpitan ekonomi inilah yang pada akhirnya menjadi "guru karier" paling absolut.

Penyelamat Itu Bernama Sektor Informal

Lalu, ke mana larinya para sarjana yang ijazahnya tidak terserap oleh korporasi? Jawabannya ada di jalan raya, di kedai kopi, dan di etalase daring.

Data BPS menunjukkan bahwa dari seluruh pekerja di Indonesia (sekitar 147 juta orang), 57,7%-nya adalah pekerja informal. Angka ini adalah bukti nyata dari kekuatan survival masyarakat kita. Menjadi driver ojol, membuka franchise es teh manis, freelance design, hingga menjadi admin akun fess di X (Twitter). Di sektor ini, tidak ada yang menanyakan IPK Anda berapa. Yang penting: Anda bisa kerja, Anda dapat uang.

Sindrom Imposter di Pukul Dua Pagi

Tentu saja, melakoni profesi lintas jurusan ini bukannya tanpa derita psikologis. Sering kali, rasa rendah diri dan overthinking menyerang di jam dua pagi. "Apa gunanya gue belajar termodinamika empat tahun kalau sekarang kerjaannya ngurusin komplain pelanggan yang pesan ayam geprek sambalnya pisah?"

Psikologi pengangguran atau pekerja underemployed itu rentan. Saat menganggur, kita dihakimi tetangga sebagai "beban keluarga". Giliran bekerja serabutan, disindir kerabat, "Sayang banget kuliah mahal-mahal ujung-ujungnya jualan baju." Tekanan berlapis ini membuat generasi pekerja masa kini rentan stres. Kita dihimpit oleh ekspektasi masa lalu (ijazah) dan tuntutan masa depan (bertahan hidup).

Solusi: Kuliah Bukan Cetakan Pabrik

Mari luruskan satu hal penting: Bekerja tidak sesuai jurusan bukanlah sebuah kegagalan. Sistem pendidikan tinggi kita bukanlah mesin cetak pabrik yang menghasilkan suku cadang identik. Kuliah sejatinya adalah proses melatih cara berpikir, struktur logika, dan kemampuan menyelesaikan masalah (problem-solving). Ilmu spesifik mungkin usang, tapi pola pikir akademis Anda akan selalu relevan.

Apakah sia-sia lulusan Teknik Mesin menjadi Barista? Tentu tidak, racikan kopinya pasti punya tingkat presisi mekanis tingkat tinggi. Apakah salah Lulusan Sastra menjadi Sales asuransi? Justru hebat, karena kemampuan narasinya bisa membuat prospek klien closing dengan lebih dramatis dan menyentuh hati!

Solusi terbaik saat ini adalah menaikkan kapasitas diri (upskilling) dan menurunkan ego gengsi. Di era yang bergerak hiper-cepat, kemampuan beradaptasi adalah gelar sarjana Anda yang sesungguhnya. Bagi Anda yang sedang berjuang di profesi yang jauh dari bangku kuliah, berhentilah merasa bersalah pada ijazah Anda. Lakukan pekerjaan Anda sekarang dengan penuh martabat dan berikan yang terbaik. Bekerja keras di bidang yang bukan keahlian awal Anda justru membuktikan satu hal luar biasa: Anda lebih besar dan lebih tangguh dari sekadar apa yang tertulis di selembar kertas ijazah.

No comments:

Post a Comment