![]() |
| Bersama Mahasiswa MPS |
Coba ingat-ingat lagi, apa judul skripsi Anda dan apa pekerjaan Anda sekarang?
Jika Anda adalah lulusan Hubungan
Internasional yang kini sibuk negosiasi promo bundling kosmetik di live
streaming TikTok, atau Sarjana Pertanian yang menghabiskan 40 jam seminggu
meracik pivot table di Microsoft Excel, mari berpelukan. Anda tidak sendirian.
Lihat kembali ramai berita di media sosial video atau foto alumni statistika
PTN ternama yang menjadi tukang mie ayam, yang kuliah jurusan pendidikan malah
jadi HRD, kuliah teknik malah jadi tukang jual kopi, dan lainnya. Selamat
datang di "Republik Salah Jurusan", sebuah negara batiniah di mana
ijazah dan slip gaji sering kali tidak saling mengenal.
Dulu, saat wisuda, kita merasa
siap menaklukkan dunia. Namun, dunia ternyata punya selera humor yang gelap.
Ketika idealisme berbenturan dengan realitas, banyak dari kita yang akhirnya
sadar: passion memang penting, tapi passion tidak bisa dipakai untuk membayar
cicilan motor dan tagihan PayLater.
Idealisme yang Runtuh oleh
Statistik
Banyak sarjana baru yang awalnya enggan bekerja jika tidak "linier" dengan jurusan kuliah. Sayangnya, realitas pasar tenaga kerja kita sedang tidak ramah untuk orang-orang idealis. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, ada 7,35 juta orang pengangguran di Indonesia. Mau bersaing secara idealis melawan jutaan orang ini? Silakan saja, asal lambung Anda sudah berlatih puasa Daud.
Belum lagi jika kita menengok
kondisi dunia usaha. Badai deindustrialisasi, khususnya di sektor padat karya,
sedang tidak main-main. Sepanjang 2025 saja, Asosiasi Pertekstilan Indonesia
mencatat setidaknya lima pabrik tekstil besar gulung tikar, merumahkan ribuan
pekerjanya, dan menyusul deretan pabrik lain yang sudah megap-megap sejak kasus
Sritex dan kawan-kawan.
Ketika pabrik dan korporasi pada
bangkrut, boro-boro mau pilih-pilih pekerjaan yang sesuai kurikulum. Bisa lolos
interview dan tidak di-ghosting HRD saja rasanya sudah seperti menang lotre.
Keadaan yang kepepet dan himpitan ekonomi inilah yang pada akhirnya menjadi
"guru karier" paling absolut.
Penyelamat Itu Bernama Sektor
Informal
Lalu, ke mana larinya para
sarjana yang ijazahnya tidak terserap oleh korporasi? Jawabannya ada di jalan
raya, di kedai kopi, dan di etalase daring.
Data BPS menunjukkan bahwa dari
seluruh pekerja di Indonesia (sekitar 147 juta orang), 57,7%-nya adalah pekerja
informal. Angka ini adalah bukti nyata dari kekuatan survival masyarakat kita.
Menjadi driver ojol, membuka franchise es teh manis, freelance design, hingga
menjadi admin akun fess di X (Twitter). Di sektor ini, tidak ada yang
menanyakan IPK Anda berapa. Yang penting: Anda bisa kerja, Anda dapat uang.
Sindrom Imposter di Pukul Dua
Pagi
Tentu saja, melakoni profesi
lintas jurusan ini bukannya tanpa derita psikologis. Sering kali, rasa rendah
diri dan overthinking menyerang di jam dua pagi. "Apa gunanya gue belajar
termodinamika empat tahun kalau sekarang kerjaannya ngurusin komplain pelanggan
yang pesan ayam geprek sambalnya pisah?"
Psikologi pengangguran atau
pekerja underemployed itu rentan. Saat menganggur, kita dihakimi tetangga
sebagai "beban keluarga". Giliran bekerja serabutan, disindir
kerabat, "Sayang banget kuliah mahal-mahal ujung-ujungnya jualan baju."
Tekanan berlapis ini membuat generasi pekerja masa kini rentan stres. Kita
dihimpit oleh ekspektasi masa lalu (ijazah) dan tuntutan masa depan (bertahan
hidup).
Solusi: Kuliah Bukan Cetakan
Pabrik
Mari luruskan satu hal penting: Bekerja
tidak sesuai jurusan bukanlah sebuah kegagalan. Sistem pendidikan tinggi
kita bukanlah mesin cetak pabrik yang menghasilkan suku cadang identik. Kuliah
sejatinya adalah proses melatih cara berpikir, struktur logika, dan kemampuan
menyelesaikan masalah (problem-solving). Ilmu spesifik mungkin usang, tapi pola
pikir akademis Anda akan selalu relevan.
Apakah sia-sia lulusan Teknik
Mesin menjadi Barista? Tentu tidak, racikan kopinya pasti punya tingkat presisi
mekanis tingkat tinggi. Apakah salah Lulusan Sastra menjadi Sales asuransi?
Justru hebat, karena kemampuan narasinya bisa membuat prospek klien closing
dengan lebih dramatis dan menyentuh hati!
Solusi terbaik saat ini adalah
menaikkan kapasitas diri (upskilling) dan menurunkan ego gengsi. Di era yang
bergerak hiper-cepat, kemampuan beradaptasi adalah gelar sarjana Anda yang
sesungguhnya. Bagi Anda yang sedang berjuang di profesi yang jauh dari
bangku kuliah, berhentilah merasa bersalah pada ijazah Anda. Lakukan pekerjaan
Anda sekarang dengan penuh martabat dan berikan yang terbaik. Bekerja keras di
bidang yang bukan keahlian awal Anda justru membuktikan satu hal luar biasa: Anda
lebih besar dan lebih tangguh dari sekadar apa yang tertulis di selembar kertas
ijazah.

No comments:
Post a Comment