![]() |
| Studi Banding ke IPB |
Musim pengumuman masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tiba. Media sosial mendadak riuh dengan ucapan selamat, foto anak berseragam dengan jaket almamater kampus impian, hingga narasi mengharu biru tentang perjuangan "belajar sampai pagi". Namun, di balik keriuhan itu, ada sebuah satir yang terus berulang: mengapa sekolah seolah hanya menjadi tempat singgah, sementara "tiket emas" menuju universitas justru dianggap lahir dari tangan dingin bimbingan belajar (bimbel)?
Antara Beban Guru dan
"Toko" Penjawab Soal
Mari kita tengok realitas di
ruang kelas. Guru kita bukan sedang santai. Di pundak mereka terpanggul beban
administrasi yang menggunung—mulai dari input rapor, kurikulum yang terus
berganti, hingga mengurus logistik sekolah yang serba terbatas. Seorang guru
seringkali terjebak dalam dilema: ingin memberikan pendalaman materi intensif
untuk siswa kelas XII, namun waktunya habis tersita untuk mengisi borang
akreditasi.
Akibatnya, saat guru berjuang
menyelesaikan beban kerja birokratis, siswa mulai merasa
"tertinggal". Di sinilah industri bimbel masuk dengan jubah pahlawan.
Mereka menjual janji berupa taktik kilat, rumus sakti, dan bocoran
tipe soal. Orang tua, yang dicekam rasa takut anaknya kalah bersaing, rela
menguras tabungan—bahkan berutang—demi membiayai paket bimbel yang harganya
bisa membuat sesak napas.
Satirnya jelas: sekolah adalah
tempat menuntut ilmu, tetapi bimbel adalah tempat menuntut nilai. Dan kita,
sebagai masyarakat, telah terlanjur memuja nilai di atas ilmu.
Psikologi yang Terjepit


