Fenomena Kopi Sejuta Jiwa, sebuah merek turunan dari Jiwa Group (Janji Jiwa), menandai titik balik di mana sektor informal jalanan tidak lagi hanya dikuasai oleh aktor-aktor mandiri berskala mikro, tetapi telah menjadi bagian dari strategi ekspansi modal yang sistematis. Di dalam struktur baru ini, muncul profil pekerja yang menarik perhatian secara sosiologis: perempuan yang berperan sebagai "rider barista" atau penjaja kopi menggunakan gerobak sepeda listrik.
Keterlibatan perempuan dalam sektor informal bukanlah hal baru, namun partisipasi mereka dalam model bisnis "grab and go" keliling dengan identitas visual korporat yang kuat menciptakan dinamika baru dalam kajian gender dan ekonomi perkotaan.
Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana perempuan menavigasi peran mereka di ruang publik yang seringkali dianggap keras, bagaimana identitas profesional mereka dibentuk melalui merek, serta sejauh mana agensi ekonomi mereka mampu menantang struktur "feminisasi kemiskinan" yang sering melekat pada pekerja sektor informal. Dengan menganalisis model bisnis Kopi Sejuta Jiwa, rekrutmen mitra, hingga interaksi sosial di lapangan, laporan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai pergeseran paradigma dari pedagang kaki lima yang dianggap "out of place" menjadi bagian dari estetika dan produktivitas kota modern.
Sejarah konsumsi kopi di Indonesia telah mengalami pergeseran budaya yang signifikan, dari sekadar kebutuhan fungsional menjadi gaya hidup yang melekat pada identitas urban, khususnya di kalangan Generasi Z dan milenial. Pada dekade sebelumnya, masyarakat Indonesia lebih akrab dengan kopi seduhan rumah atau warung tradisional, namun pertumbuhan pesat kedai kopi modern atau "coffee shop" telah mengubah ekspektasi konsumen terhadap kualitas dan aksesibilitas. Di celah antara kenyamanan kafe mewah dan kepraktisan kopi instan jalanan, muncullah fenomena Starling pada era 1990-an yang menggunakan sepeda untuk menjajakan minuman saset.
Namun, kejenuhan pasar dan tingginya biaya operasional outlet fisik mendorong Jiwa Group untuk meluncurkan Kopi Sejuta Jiwa pada tahun 2023.Konsep ini merupakan hibridisasi antara mobilitas Starling dengan standar kualitas Janji Jiwa. Penggunaan sepeda listrik yang dimodifikasi bukan hanya soal efisiensi transportasi, melainkan juga simbol modernisasi sektor informal. Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk menjangkau konsumen di lokasi-lokasi yang sulit diakses oleh outlet fisik, seperti gang sempit, pemukiman padat, hingga area perkantoran yang memiliki kebijakan parkir ketat.
Karakteristik
Starling Tradisional
Kopi Sejuta Jiwa
Model Transportasi
Sepeda kayuh manual atau gerobak dorong 8
Sepeda listrik atau motor dengan box khusus 2
Kualitas Produk
Minuman saset instan 8
Biji kopi asli Indonesia (Sumatera & Bali) 8
Sistem Transaksi
Tunai (Cash only) 6
Digital via aplikasi iSeller/POS dan tunai 10
Identitas Visual
Tanpa seragam, gerobak tidak seragam 6
Seragam merah, helm, branding korporat 1
Jaminan Merek
Kepercayaan personal pedagang
Reputasi merek nasional (Janji Jiwa) 1
Pergeseran ini mencerminkan apa yang dalam sosiologi disebut sebagai profesionalisasi sektor informal.
Dengan mengadopsi elemen-elemen formal seperti seragam, standar operasional prosedur (SOP), dan teknologi digital, para penjaja kopi ini tidak lagi dipandang sebagai gangguan ketertiban kota, melainkan sebagai "barista bergerak" yang memberikan nilai tambah pada dinamika ekonomi perkotaan.5 Bagi perempuan, transformasi ini memberikan payung legitimasi yang lebih besar saat mereka harus bekerja di ruang publik.
Analisis Bisnis dan Skema Kemitraan: Inklusi vs Prekaritas
Keberhasilan Kopi Sejuta Jiwa dalam merekrut banyak pekerja, termasuk perempuan, tidak lepas dari skema kemitraan yang dirancang untuk menurunkan hambatan masuk bagi pengusaha kecil. Model ini menawarkan janji balik modal yang cepat dengan risiko operasional yang relatif rendah dibandingkan membuka gerai fisik.9 Jiwa Group memposisikan dirinya sebagai penyedia sistem dan pasokan, sementara mitra berperan sebagai pemilik dan pengelola operasional di lapangan.1
Struktur Investasi dan Proyeksi Profitabilitas
Mitra dapat memilih beberapa paket investasi yang sudah mencakup peralatan tempur lengkap untuk berjualan di jalanan. Paket-paket ini dirancang untuk memastikan keseragaman merek di seluruh wilayah operasional.
Komponen Investasi
Paket Box (Motor)
Paket Cart (Sepeda Listrik)
Biaya Estimasi
Rp 19.999.999 12
Rp 39.999.999 - Rp 40.000.000 1
Fasilitas Utama
Box motor, branding, jaket, helm 12
Sepeda listrik, sistem POS, kulkas, cooler box 12
Atribut Rider
Kaos polo, topi, tas 12
Payung besar, perlengkapan standar 12
Biaya Royalti
Bebas biaya royalti bulanan 12
Bebas biaya royalti bulanan 12
Model tanpa royalti ini sangat menarik bagi perempuan yang ingin memiliki kendali atas pendapatan mereka. Namun, di balik kemudahan investasi tersebut, terdapat tekanan pada volume penjualan. Simulasi profit menunjukkan bahwa keuntungan bersih yang signifikan hanya dapat dicapai melalui penjualan harian yang stabil dan tinggi.
Simulasi Pendapatan Harian dan Bulanan
Indikator Penjualan
Estimasi Per Hari
Estimasi Per Bulan (26 Hari Kerja)
Volume Penjualan
100 cup 12
2.600 cup
Margin per Cup
Rp 3.750 12
Rp 3.750
Pendapatan Kotor
Rp 375.000
Rp 9.750.000
Biaya Operasional
Rp 115.000 (listrik, es, gaji)
Rp 3.000.000
Profit Bersih
Rp 260.000
Rp 6.750.000 12
Bagi perempuan yang bekerja sebagai rider (bukan pemilik kemitraan), sistem upah biasanya berbasis target dan komisi. Data rekrutmen menunjukkan adanya insentif harian jika target tercapai, yang memicu kompetisi internal antar rider di jalanan.13 Hal ini menciptakan kondisi kerja yang disebut sebagai "prekaritas yang terstandarisasi", di mana pekerja memiliki kebebasan mobilitas namun terikat pada target performa yang ketat agar dapat membawa pulang pendapatan yang layak.10
Profil Rider Perempuan: Motivasi dan Agensi di Balik Gerobak
Fenomena perempuan menjadi rider barista Kopi Sejuta Jiwa menunjukkan adanya pergeseran demografis dalam tenaga kerja sektor informal. Jika sebelumnya pekerjaan ini didominasi laki-laki karena tuntutan fisik dan persepsi keamanan jalanan, kehadiran identitas korporat Janji Jiwa telah membuka jalan bagi partisipasi perempuan dari berbagai latar belakang.10 Persyaratan rekrutmen yang inklusif—seringkali tanpa batasan pendidikan minimal—menjadikan posisi ini sebagai pelarian dari pengangguran bagi perempuan yang memiliki keterbatasan akses ke sektor formal.4
Alasan Memilih Profesi Rider Barista
Berdasarkan analisis terhadap kondisi sosial ekonomi di Indonesia, beberapa faktor mendorong perempuan untuk terjun ke profesi ini:
Kebutuhan Ekonomi Mendesak: Sebagian besar perempuan yang bekerja di sektor informal melakukannya untuk menambah penghasilan keluarga atau sebagai pencari nafkah tunggal (single mother).3
Fleksibilitas dan Kemandirian: Meskipun ada target, menjadi rider memberikan rasa agensi karena mereka dapat menentukan rute dan cara berinteraksi dengan pelanggan secara mandiri.6
Peningkatan Literasi Digital: Penggunaan aplikasi seperti iSeller untuk transaksi memberikan rasa bangga dan peningkatan kapasitas teknis bagi perempuan yang sebelumnya tidak tersentuh teknologi pekerjaan modern.10
Keamanan Identitas Korporat: Menggunakan atribut merek terkenal memberikan rasa aman dari gangguan premanisme jalanan dibandingkan menjadi pedagang asongan biasa.1
Kriteria Rekrutmen
Deskripsi
Usia
17 hingga 60 tahun (inklusif) 14
Pendidikan
Tidak ada minimal pendidikan (SD/SMP diterima) 10
Persyaratan Teknis
Wajib punya HP Android dan bisa bawa motor 13
Pengalaman
Tanpa pengalaman kerja sebelumnya diterima 10
Benefit Tambahan
Uang motor harian (Rp15k), uang makan (Rp20k), bonus target 13
Agensi perempuan di sini bermanifestasi dalam kemampuan mereka untuk bernegosiasi dengan ruang publik. Mereka bukan sekadar objek dari sistem kemitraan, melainkan aktor yang aktif menggunakan "modal simbolis" berupa merek Janji Jiwa untuk mendapatkan hak mereka atas kota.5 Melalui senyuman dan keramahan (friendliness), yang secara statistik dinilai tinggi dalam dimensi brand personality Kopi Janji Jiwa, para rider perempuan ini membangun loyalitas konsumen di titik-titik strategis seperti SCBD atau stasiun kereta.8
Tantangan Struktural dan Feminisasi Kemiskinan
Meskipun fenomena ini menawarkan peluang, tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan di sektor informal tetap menghadapi tantangan struktural yang berat. Konsep "feminisasi kemiskinan" menjelaskan bagaimana perempuan cenderung terjebak dalam pekerjaan dengan upah rendah, jaminan sosial yang minim, dan beban ganda antara pekerjaan domestik dan publik.3 Dalam konteks rider barista, kerentanan ini terlihat jelas pada kondisi kerja di lapangan yang sangat bergantung pada faktor eksternal.18
Kerentanan di Jalanan
Rider perempuan harus menghadapi realitas fisik jalanan Jakarta yang keras. Panas terik, polusi, dan hujan deras bukan hanya soal kenyamanan, tetapi berdampak langsung pada tercapainya target harian. Jika hujan turun sepanjang hari, kemungkinan mereka mencapai target 50 cup sangat kecil, yang berarti mereka kehilangan bonus harian dan komisi yang menjadi komponen utama pendapatan mereka.13 Selain itu, ketiadaan jaminan kesehatan formal dari perusahaan induk (karena status sebagai mitra atau tenaga kerja lepas mitra) menempatkan mereka pada risiko finansial yang besar jika terjadi kecelakaan atau sakit akibat kelelahan.16
Beban Domestik dan Dual Role
Banyak rider perempuan yang memulai aktivitas mereka sejak pagi hari setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Tekanan untuk mencapai target 50-100 cup per hari seringkali memaksa mereka bekerja hingga malam hari, yang mengurangi waktu untuk keluarga dan meningkatkan risiko kelelahan fisik maupun mental.4 Ketimpangan gender dalam pembagian peran domestik di Indonesia membuat beban yang dipikul perempuan jauh lebih berat dibandingkan rider laki-laki dalam profesi yang sama.4
Jenis Risiko
Dampak bagi Rider Perempuan
Mekanisme Mitigasi (Jika Ada)
Risiko Cuaca
Penurunan omzet drastis saat hujan 18
Penggunaan payung besar di gerobak 12
Risiko Keamanan
Pelecehan verbal atau gangguan di area sepi 16
Identitas seragam merah yang mencolok 1
Risiko Kesehatan
Kelelahan kronis akibat jam kerja panjang 18
Bonus kehadiran dan fee harian 13
Risiko Ekonomi
Pendapatan tidak stabil berbasis komisi 12
Potensi balik modal cepat melalui volume 9
Ketimpangan ini juga diperparah oleh akses terhadap perlindungan sosial. Data menunjukkan bahwa banyak perempuan di sektor informal tidak memiliki identitas hukum yang lengkap atau akses ke program bantuan pemerintah karena hambatan birokrasi dan pendidikan.3 Dalam hal ini, Kopi Sejuta Jiwa memang memberikan "pekerjaan", namun belum tentu memberikan "jaminan masa depan" yang stabil bagi para pekerjanya.
Profesionalisasi PKL dan Persepsi Publik
Salah satu keberhasilan paling signifikan dari fenomena Kopi Sejuta Jiwa adalah perubahan persepsi publik terhadap pedagang kopi keliling. Secara tradisional, pedagang kaki lima (PKL) seringkali dipandang secara dikotomis: di satu sisi mereka membantu ekonomi masyarakat bawah, namun di sisi lain mereka dianggap sebagai sumber kekacauan lalu lintas dan sampah.5 Kopi Sejuta Jiwa berhasil memecah stigma negatif ini melalui standardisasi estetika dan kualitas.
Peran Branding dalam Legitimasi Sosial
Penggunaan warna merah terang pada gerobak sepeda listrik bukan sekadar pilihan artistik, melainkan strategi sosiologis untuk menciptakan pengingatan merek (brand trademark) yang kuat.1 Warna ini memberikan kesan berani, bersih, dan profesional. Saat seorang perempuan berdiri di balik gerobak merah tersebut dengan seragam lengkap, masyarakat tidak lagi melihatnya sebagai "pedagang asongan", melainkan sebagai perwakilan dari sebuah merek nasional yang terpercaya.1
Respon konsumen, terutama karyawan kantor di Jakarta, menunjukkan bahwa mereka merasa lebih nyaman membeli kopi dari gerobak bermerek karena adanya jaminan rasa yang konsisten dengan harga yang "ramah kantong karyawan" (Rp 8.000 - Rp 14.000).8 Hal ini menciptakan simbiosis mutualisme di mana konsumen mendapatkan kafein berkualitas tanpa harus ke kafe, dan rider perempuan mendapatkan pasar yang stabil berkat reputasi merek induknya.1
Analisis Berdasarkan Teori Pierre Bourdieu
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori habitus dan modal dari Pierre Bourdieu. Para rider perempuan melakukan konversi dari "modal simbolis" (merek Janji Jiwa) menjadi "modal ekonomi" (pendapatan harian).6 Mereka harus menyesuaikan habitus mereka—dari cara berpakaian hingga cara berkomunikasi—agar sesuai dengan ekspektasi kelas menengah perkantoran yang menjadi target pasar utama.6 Profesionalisasi ini adalah bentuk strategi kebertahanan di era digital, di mana penampilan dan reputasi menjadi aset yang sama pentingnya dengan produk itu sendiri.6
Dampak Teknologi pada Agensi Ekonomi Perempuan
Integrasi teknologi digital dalam model bisnis Kopi Sejuta Jiwa merupakan faktor pembeda utama yang memperkuat agensi perempuan. Penggunaan ponsel Android tidak hanya untuk komunikasi, tetapi juga sebagai alat kerja utama untuk mencatat transaksi dan absensi.10 Bagi perempuan yang mungkin sebelumnya memiliki keterbatasan dalam penguasaan teknologi, tuntutan pekerjaan ini memaksa mereka untuk melakukan upskilling secara mandiri atau melalui pelatihan gratis yang disediakan.9
Digitalisasi Transaksi dan Efisiensi
Penggunaan aplikasi iSeller atau sistem POS (Point of Sale) di lapangan memungkinkan perusahaan untuk memantau performa penjualan secara real-time. Bagi rider perempuan, hal ini memberikan transparansi dalam perhitungan komisi harian.10 Selain itu, adanya keinginan konsumen untuk melacak lokasi gerobak melalui aplikasi (seperti JIWA+) menunjukkan potensi masa depan di mana interaksi antara pedagang dan pembeli semakin terdigitalisasi.8
Teknologi ini juga berperan sebagai alat kontrol. Rider yang tidak mahir menggunakan aplikasi atau tidak responsif terhadap pesanan digital mungkin akan tertinggal dalam perolehan bonus. Oleh karena itu, agensi perempuan di sini juga mencakup kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan alat-alat produksi digital agar tetap kompetitif di pasar yang bergerak cepat.8
Strategi Bertahan dan Masa Depan Ekonomi Informal Perkotaan
Keberlanjutan fenomena perempuan penjaja kopi ini sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan dinamika ruang kota yang terus berubah. Persaingan di jalanan semakin ketat, tidak hanya antar sesama rider Sejuta Jiwa, tetapi juga dengan Starling tradisional dan kopi keliling dari merek lain yang mulai meniru model serupa.6
Taktik Navigasi Ruang
Rider perempuan yang sukses biasanya memiliki pengetahuan mendalam tentang ritme kota. Mereka tahu kapan harus berada di depan gedung perkantoran saat jam istirahat, atau kapan harus bergeser ke area stasiun saat jam pulang kerja.6 Taktik navigasi ini adalah bentuk "street wisdom" yang menjadi modal penting bagi keberlangsungan ekonomi mereka. Mereka juga harus lihai menghindari area-area yang sedang dalam pantauan ketat aparat penertiban, meskipun identitas korporat mereka seringkali memberikan kelonggaran lebih.5
Rekomendasi untuk Keberlanjutan yang Inklusif
Agar fenomena ini tidak sekadar menjadi bentuk eksploitasi baru terhadap perempuan di sektor informal, beberapa langkah strategis perlu dipertimbangkan oleh para pemangku kepentingan:
Penyediaan Jaminan Sosial: Jiwa Group atau mitra lokal harus mulai memikirkan skema asuransi kesehatan atau kecelakaan kerja yang terjangkau bagi para rider, mengingat risiko tinggi di jalanan.16
Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan: Pelatihan tidak boleh berhenti pada aspek teknis pembuatan kopi, tetapi juga mencakup manajemen keuangan, hak-hak pekerja, dan keamanan diri bagi perempuan.3
Regulasi Kota yang Pro-Rakyat: Pemerintah daerah perlu merumuskan kategori perizinan khusus bagi pedagang keliling modern yang menggunakan kendaraan ramah lingkungan (listrik), sehingga mereka memiliki kepastian hukum dalam beroperasi.5
Penguatan Komunitas: Pembentukan serikat atau komunitas antar rider perempuan dapat menjadi sarana dukungan sosial untuk berbagi informasi tentang rute aman, tips kesehatan, hingga bantuan darurat.16
Kesimpulan
Fenomena perempuan penjaja kopi gerobak Kopi Sejuta Jiwa adalah potret nyata dari transformasi sosiologis dan ekonomi di Indonesia. Di satu sisi, ia merepresentasikan kemajuan dalam profesionalisasi sektor informal dan memberikan peluang agensi ekonomi bagi perempuan yang sebelumnya terpinggirkan. Merek yang kuat, teknologi digital, dan model kemitraan telah mengubah wajah pedagang kopi keliling dari elemen kota yang dianggap "mengganggu" menjadi ikon modernitas urban yang fungsional.
Namun, di sisi lain, bayang-bayang prekaritas dan feminisasi kemiskinan tetap ada. Kerentanan terhadap cuaca, ketidakstabilan pendapatan berbasis komisi, dan ketiadaan perlindungan sosial formal merupakan tantangan yang harus diselesaikan agar profesionalisme ini benar-benar membawa kesejahteraan, bukan sekadar beban kerja baru. Agensi perempuan yang muncul di jalanan Jakarta melalui gerobak merah mereka adalah bukti ketangguhan dalam menghadapi keterbatasan struktur ekonomi. Masa depan sektor informal Indonesia akan sangat ditentukan oleh sejauh mana inovasi bisnis seperti Kopi Sejuta Jiwa mampu menyelaraskan antara ambisi pertumbuhan korporasi dengan keadilan sosial bagi para pekerjanya, terutama perempuan yang berdiri di garis depan pelayanan.
Karya yang dikutip
SEJUTA KOPI, SERIBU STRATEGI - UINSA, diakses Januari 2, 2026, https://uinsa.ac.id/sejuta-kopi-seribu-strategi
PENGARUH CITRA MEREK, PERSEPSI HARGA, DAN WORD OF MOUTH TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK KOPI JANJI JIWA - Journal Untar, diakses Januari 2, 2026, https://journal.untar.ac.id/index.php/JMDK/article/view/34007/20320
FeminisAsi KemisKinAn: AKses dAn Kontrol ... - Seknas FITRA, diakses Januari 2, 2026, https://seknasfitra.org/wp-content/uploads/2023/08/Feminisasi-Kemiskinan-Akses-dan-Kontrol-Perempuan-pada-Program-Keluarga-Harapan-di-Masa-COVID-19.pdf
Kiprah Perempuan di sektor Informal (Studi Kasus Perempuan Tukang Suun Di Pasar Blahbatuh, Gianyar), diakses Januari 2, 2026, https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/nirwasita/article/download/1081/883
Street Vendors as 'Out of Place' Urban Elements | Request PDF - ResearchGate, diakses Januari 2, 2026, https://www.researchgate.net/publication/262967385_Street_Vendors_as_'Out_of_Place'_Urban_Elements
Strategi Kebertahanan Pedagang Kopi Kaki Lima di Wilayah Rawamangun pada Era Digital: Analisis Berdasarkan Teori Pierre Bourdieu, diakses Januari 2, 2026, https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jcsr/article/download/3831/3602/11855
SKRIPSI PERILAKU KONSUMSI KOPI SEBAGAI GAYA HIDUP BARU PADA KALANGAN MASYARAKAT GENERASI Z DI KOTA PALEMBANG (STUDI DI KEDAI KOP - Sriwijaya University Repository, diakses Januari 2, 2026, https://repository.unsri.ac.id/158021/6/RAMA_69201_07021181722008_0031126609_0027118604_01_front_ref.pdf
Perilaku Konsumen dalam Pengambilan Keputusan ... - JIIP, diakses Januari 2, 2026, http://jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/article/download/6131/4541/40094
Panduan Lengkap Franchise Kopi Sejuta Jiwa untuk Pemula - GoPay, diakses Januari 2, 2026, https://gopay.co.id/blog/panduan-lengkap-franchise-kopi-sejuta-jiwa-untuk-pemula
Segera Dibutuhkan: Jiwa Cilodong, Depok Kota - Desember 2025 ..., diakses Januari 2, 2026, https://id.jooble.org/lowongan-kerja-jiwa/Cilodong%2C-Depok-Kota
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA BANDA ACEH Ismanidar1 - Neliti, diakses Januari 2, 2026, https://media.neliti.com/media/publications/187759-ID-persepsi-masyarakat-terhadap-pedagang-ka.pdf
Kemitraan Kopi Sejuta Jiwa, Bisnis Kopi Keliling Bebas Royalti #StartFranchise, diakses Januari 2, 2026, https://www.startfranchise.id/article/kemitraan-kopi-sejuta-jiwa-bisnis-kopi-keliling-bebas-royalti-startfranchise
Lowongan Kerja Rider Kopi di Mitra Sejuta Jiwa Cakung Jakarta Timur - JakartaKerja, diakses Januari 2, 2026, https://www.jakartakerja.com/lowongan/rider-kopi-di-mitra-sejuta-jiwa-cakung-jakarta-timur/
Lowongan Rider Sejuta Jiwa di PT. Tangga Agency Terbaru | Pintarnya, diakses Januari 2, 2026, https://pintarnya.com/lowongan/rider-sejuta-741482
Cara Menjadi Mitra Kopi Sejuta Jiwa dan Persyaratannya - Kumparan.com, diakses Januari 2, 2026, https://kumparan.com/berita-bisnis/cara-menjadi-mitra-kopi-sejuta-jiwa-dan-persyaratannya-23gfd0orbGb
Street Vendors - Urban Studies - Oxford Bibliographies, diakses Januari 2, 2026, https://www.oxfordbibliographies.com/abstract/document/obo-9780190922481/obo-9780190922481-0061.xml?print
ANALISIS BRAND PERSONALITY DARI FRANCHISE KOPI JANJI JIWA DI SURABAYA - Neliti, diakses Januari 2, 2026, https://media.neliti.com/media/publications/358398-analisis-brand-personality-dari-franchis-f79789d5.pdf
Realitas Tantangan Tenaga Kerja Wanita di Sektor Informal: Kontribusi, Tantangan dan Dampak yang Terjadi - Semantic Scholar, diakses Januari 2, 2026, https://pdfs.semanticscholar.org/0bc7/7dd5b474a289ad3a88c1827cd3d82bb8e0a3.pdf
Introduction: Contested Street: Informal Street Vending and its Contradictions, diakses Januari 2, 2026, https://journals.openedition.org/articulo/3719
No comments:
Post a Comment